Sistem Jalur Distribusi Kakao Tidak Efisien

Media Centre — Sulawesi Selatan merupakan salah satu produsen kakao Indonesia yang memproduksi 196.984 ton atau 40 persen kakao nasional. Namun, di pasar dunia, mutu kakao Indonesia termasuk Sulsel masih rendah sehingga masih menjadi bahan campuran di Amerika Serikat.Negara kita saat ini berada di peringkat tiga produsen terbesar setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika. Namun, ternyata pengembangan komoditas kakao di Indonesia masih mengalami sejumlah hambatan. Bahkan dalam kurun waktu lima tahun sejak 2002-2006, volume ekspor kakao kita menurun.

Apa saja kendala itu dan bagaimana sebenarnya posisi Sulsel dan Indonesia dalam bisnis kakao? Bagaimana pula menciptakan jalur distribusi yang efisien? Berikut wawancara Anggi S Ugart dengan Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Biaya, Fakultas Ekonomi (FE) Unhas, Prof Dr Osman Lewangka, di Unhas Kamis kemarin.

* Saat ini, bagaimana posisi produksi komoditas kakao (coklat) kita?

Data terakhir dari ICCO (International Cacao and Coffee Organization) menunjukkan kebutuhan kakao dunia saat ini diperkirakan sebesar 3,299 juta ton. Adapun produksi biji kakao hanya sebesar 3,288 juta ton. Ini berarti penawaran kakao dunia kurang sekitar 110.000 ton.

Indonesia dalam komoditas kakao ini, memegang peran strategis. Produksi kakao Indonesia saat ini atau tahun 2006 ini mencapai 435.000 ton pertahun. Maka negara kita menjadi ketiga terbesar dunia penghasil kakao setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika dengan pangsa produksi sebesar 13,23 persen dari total produksi kakao dunia.

Produksi ini masih akan ditingkatkan hingga mencapai 600.000 ton pada tahun 2010. Kita melihat sekarang, posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu produsen kakao terbesar di Indonesia. Luas areal perkebunan 181.276 hektare atau sekitar 19,83 persen dari jumlah luas areal perkebunan kakao nasional. Kakao tersebar di 17 provinsi termasuk Sultra, Sulteng, Papua dan beberapa daerah lain.

Dampak dari komoditas kakao ini, masyarakat yang terlibat di dalamnya sebagai petani produsen kakao diperkirakan sebanyak 209.993 KK atau sekitar 6,86 persen dari jumlah angkatan kerja Sulsel. Penyerapan tenaga kerja memang signifikan.

*Apakah angka produksi itu lebih tinggi dari tahun sebelumnya?

Angka itu lebih tinggi dari sebelumnya. Jadi secara bertahap angka produksi per nasional dari waktu ke waktu mencapai angka sekarang ini. Sulsel sendiri menyumbang atau memproduksi kakao mencapai 196.984 ton atau 40 persen dari 435 ribu ton produksi kakao nasional per tahun.

* Apakah komoditas kakao kita masih bisa diandalkan atau berdaya saing tinggi di pasar dunia?

Kalau bicara kualitas biji kakao, kita masih tergolong asalan jika dibandingkan kakao dari negara tropis Afrika yang tergolong mutu premium. Namun, produk kita memiliki segmen pasar sendiri terutama di Amerika Serikat. Produk asalan kita sekarang menjadi bahan campuran bagi komoditas kakao premium. Kita belum mencapai mutu premium. Sebetulnya suatu ketika kita harus bisa melakukan diversikasi ada pasar yang memerlukan mutu sekarang.

* Menurut Anda, apa kendala kualitas kakao Sulsel dan Indonesia?

Menurut kajian lembaga penelitian bahwa kualitas biji kakao rendah sehingga belum memenuhi kakao mutu premium dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya kandungan lemak yang rendah yang hanya 53,1 persen dibanding Ghana sebesar 57,3 persen. Cita rasa coklatnya juga masih kurang karena berbau tanah, asam, sangit dan lain-lain. Kalaupun difermentasi hasilnya sangat asam. Ini perlu dibenahi

Tapi kualitas ini bisa ditingkatkan dengan rekayasa teknologi budidaya dan penelitian di pertanian. Misalnya dengan pemberian vitamin. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi ilmu pertanian kita. Masalah kedua, adalah pohon kakao kita sudah tua, ada berumur 15 tahun. Padahal usia kakao produktif adalah 6-12 tahun.

* Selain mutu dan produktivitas komoditas kakao, persoalan apa lagi yang menjadi hambatannya?

Biaya produksi yang terus meningkat. Sebabnya karena bahan bakar minyak, listrik dan penerapan PPN yang akan menambah biaya produksi. Akibatnya biaya jadi mahal padahal kualitasnya rendah.

Masalah perkakaoan tak hanya soal biji, penurunan produktivitas dan biaya produksi tapi ditentukan juga oleh kinerja jalur distribusi. Jalur distribusi itu adalah pelaku-pelaku mulai petani, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang kabupaten sampai ke puncak perdagangan ekspor di Makassar turut ambil bagian agar komoditas petani bisa sampai ke pembeli, khususnya yang kita ekspor keluar negeri dengan biaya tertentu agar dengan biaya itu kita bisa menjual produk kita lebih murah sesuai kebutuhan mereka.

Di sini, saya melihat, kinerja distribusi sekarang ini tergolong belum efisien. Penyebabnya, menurut saya ada empat hal. Yakni peningkatan biaya transaksi karena ada duplikasi fungsi oleh para pelaku. Kedua, keuntungan kecil dan pembagian tidak adil karena adu kekuatan. Terus ketiga, akses informasi.

Kita tahu bahwa pergerakan dari harga komoditas kakao di pasar ekspor dinamikanya sangat tinggi. Setiap saat bisa naik dan turun. Sehingga kalau informasi tidak diakses cepat oleh petani, maka mereka tidak punya posisi kapan menjual dengan harga baik.
Faktor terakhir, mutu barang rendah, biji tidak homogen dan kurang bersih. Mungkin karena dari produsen petani yang tersebar yang mengolah dengan cara berbeda, atau tidak disortir. Mungkin juga tidak ditangani baik pascapanen.

* Berbicara soal distribusi tadi Anda katakan jalur distribusi kakao tidak efisien. Jalur alternatif seperti apa yang baik diterapkan menurut Anda?

Untuk memilih jalur efisiensi dari perspektif model analisis biaya transaksi ada beberapa kemungkinan yang bisa ditempuh, terutama jika kita kaitkan dengan meningkatkan mutu, produktivitas dan pendapatan petani.

Pertama, jalur distribusi konvensional. Artinya para pelaku transaksi independen dengan mekanisme pasar dari petani, pengumpul, pedagang besar lalu ke eksportir. Kedua, ada satu perusahaan besar yang mengintegrasikan seluruh aktivitas fungsi marketing distribusi, pengadaan, transportasi di bawah satu naungan perusahaan yang disebut sistem distribusi integrasi vertikal.

Idenya, jika tidak ada persaingan di pasar pasokan, lalu informasi kurang lengkap, produk tidak homogen maka menurut model ini baik dilakukan dengan cara itu.Sistem jalur seperti ini juga memiliki kelemahan yakni bisa saja biaya operasi jadi tinggi. Akibatnya, harga produk yang dihasilkan jadi lebih mahal.

Saya berpikir kalau kita ingin agar produk kakao bermutu dengan harga bersaing dan petani mendapat margin yang lebih baik, maka jalur konvensional ini kemudian bisa dicoba untuk disinergikan dengan sistem teradministrasi. Artinya jalur konvensional ini dilatih kemudian diarahkan. Juga ada satu penampung dan ada semacam sertifikat yang dipegang untuk ikut berbisnis. Sehingga misalnya Pemprov Sulsel mengatakan inilah mutu kakao Sulsel kita, maka mereka mengacu ke sana, dan ada harga formula. Kalau mutunya seperti ini, harganya sekian.

Dan kita arahkan ke patokan yang terbaik. Dalam sistem itu, ada insentif untuk melakukan jalur distribusi lebih murah sehingga margin yang didapatkan sampai ke petani lebih baik. Ini gambaran hasil penelitian yang saya lakukan.

* Bagaimana sebenarnya standar kakao internasional?

Standar kakao premium di negara Afrika itu mereka sudah sangat berhasil. Mulai dari mutu bibit, pengolahan fermentasi, pemetikan dan dalam cara distribusi, sudah sangat terorganisir. Di sana, ada aturan bahwa siapayang ikut dalam distribusi kakao harus ada sertifikat, boleh swasta, koperasi atau agen perusahaan asal setuju dengan standar mutu yang ditetapkan, bisa ikut.

Di negara-negara Afrika, minimun satu bulan sebelumnya harga produsen untuk tingkat petani sudah diumumkan oleh pemerintah. Sehingga terjadi bargaining di pasar. Di negara kita belum seperti itu. Karena kita belum punya standar kakao yang ketat, yang akan kita pasarkan ke luar negeri.

* Berapa volume dan nilai ekspor Sulsel dalam kurun waktu lima tahun terakhir? Mengalami peningkatan atau justru menurun karena kendala yang disebutkan tadi?

Pertumbuhan ekspor mengalami penurunan biji kakao. Tapi kita beralih sebagian ke jenis lain seperti tepung dan butter, batangan.Kita tetap bertahan di biji kakao tapi juga mengembangkan produksi bentuk lainnya.

Volume ekspor kakao kita di tahun 2002 sebesar 258.989 ton sedangkan di tahun 2006 hanya 180.556 atau menurun 77.989 ton atau turun sekitar 30,16 persen. Nilai juga menurun. Jika tahun 2002 nilai ekspor Sulsel USD354.768.989 miliar, maka di tahun 2006 turun menjadi USD224.723.485 atau 36,68 persen.

* Dengan penurunan itu apakah komoditas kakao kita masih bisa disebut andalan?

Komoditas kakao kita masih andalan karena kita masih kuasai pasar di Indonesia dan menyumbang Indonesia menjadi peringkat tiga di dunia. Begitu banyak devisa yang kita dapat dari kakao dan banyak petani yang juga terlibat di dalamnya.

* Saran Anda untuk Pemprov Sulsel?

Modal analisis biaya transaksi dapat digunakan sebagai landasan untuk mengevaluasi efisiensi sistem jalur distribusi komoditas-komoditas andalan Sulsel yang ada saat ini, serta menentukan sistem jalur alternatif yang lebih efisien. (*)

Diterbitkan di:  on Mei 26, 2008 at 9:45 am Tinggalkan sebuah Komentar

hama, hama,….

Hama Kakao Rugikan Petani Sulsel Rp 800 miliar

MAKASSAR – Petani diperkirakan kehilangan produksi buah kako sebanyak 28 ribu ton pertahun. Akibat digasak hama kiriman dari Sulawesi Tengah itu menyebabkan petani menderita kerugian Rp 750 miliar hingga Rp 800 miliar, dengan asumsi harga kakao Rp 10.000 per kilogram.

Kabar menyedihkan ini disampaikan Wakil Kepala Dinas Perkebunan Sulawesi Selatan, Ir M Karya Yunus, kemarin. Ia mengatakan, secara keseluruhan luas areal perkebunan kakao di daerah itu yang terserang hama PBK mencapai 142 ribu hektare dari 240 ribu hektare perkebunan itu. Intensitas serangan mencapai 20 – 50 persen.

Areal paling luas yang terserang hama terletak di daerah perbatasan Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah, yakni Kabupaten Luwu Utara dan Mamuju. Di Luwu Utara, ungkap Karya, luas areal yang terserang hama PBK mencapai 42 ribu hektare dari 48 ribu hektare total areal perkebunanan tanaman kakao. Sedang di Mamuju, sudah terserang seluas 30 ribu hetare dari 45.232 hektare tanaman kakao.

Menurut Karya saat ini seluruh daerah perkebunan kakao sudah terserang hama tersebut. Daerah perkebunan kakao di Sulawesi Selatan meliputi 16 kabupaten, antara lain Soppeng, Pinrang, Luwu Utara, Maros dan Mamuju. Hama yang pertama kali ditemukan di Luwu Utara tahun 1995 itu penyebarannya relatif cepat. Seluruh kabupaten yang memiliki perkebunan kakao, ujar Karya, sudah terserang hama PBK dengan tingkat bervariasi. “Itu dikarenakan setiap kupu-kupu yang menyebarkan hama itu bisa terbang dengan radius 500 meter,” ujarnya.

Hingga saat ini, belum ditemukan cara mengatasi hama itu secara kimiawi. Petani hanya bisa membuat hama itu tidak nyaman hidup. Karya menyebutkan empat langkah, yakni pemangkasan sesering mungkin, pemupukan berimbang, panen sering, dan sanitasi kebun. Bila langkah itu dilakukan dengan baik, diharapkan mampu menekan intesitas serangannya hingga 30 persen. Sehingga, memungkinkan petani hanya kehilangan hasil produksi buah kakao sekitar lima persen.

Sulawesi Selatan sendiri menyumbang sekitar 70 persen ekspor kakao nasional. Data Assosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulawesi Selatan menunjukkan, hampir seluruh produksi kakao daerah itu diekspor. Tahun lalu, ekspor kakao Sulawesi Selatan mencapai 176 ribu ton. Untuk tahun ini, target ekspor diperkirakan mencapai 190 ribu ton. Sementara target ekspor kakao secara nasional sebanyak 350 ribu ton.

Diterbitkan di:  on April 21, 2008 at 10:43 pm Tinggalkan sebuah Komentar

coklat………kakao……….coklat

Siapa sih yang tidak suka dengan cokelat? Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa pasti suka dengan makanan yang satu ini. Apalagi setelah diolah, cokelat bisa “menyihir” lidah siapapun yang menyicipinya. Rasanya yang manis dan tampilannya yang menggiurkan mata, bisa membuat kita ketagihan untuk terus mencobanya. Namun, tahukan kamu proses pembuatan cokelat? Kalau belum tahu, yuk, kita ikuti cerita kak Mitha Yanuarti tentang proses pembuatan cokelat dalam buku Cokelat yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka. Cokelat yang biasa kita makan, sebenarnya berasal dari biji-biji dalam buah kakao. Buah kakao itu sendiri, bentuknya seperti timun atau pepaya. Bulat dan memanjang. Sebelum matang, buah kakao berwarna hijau atau ungu. Jika sudah matang, berwarna kuning keemasan atau ungu tua. Biji-biji kakao yang terdapat di dalam buah kakao ini rasanya pahit dan berwarna putih. Sebelum dibuat menjadi cokelat, biji kakao mentah harus diproses terlebih dahulu. Proses pertama adalah fermentasi. Proses ini penting untuk mendapatkan kakao yang berkualitas tinggi dan mengurangi rasa pahit kakao. Proses ini berlangsung selama tiga hingga sembilan hari. Setelah proses ini selesai, barulah biji kakao ini siap dikeringkan. Pada proses kedua ini, pengeringan dilakukan selama beberapa hari atau seminggu. Selama dikeringkan, biji kakao harus terus dibolak-balik agar kering secara merata. Setelah kering, berat biji kakao akan berkurang hingga setengahnya, warnanya menjadi lebih cokelat dan aromanya lebih kuat. Setelah melalui kedua proses tadi, barulah biji kakao tersebut bisa diolah menjadi cokelat. Pengolahannya dilakukan dengan bantuan mesin. Biji-biji tersebut diubah menjadi butiran, cairan, mentega, batangan, atau bubuk kakao. Setelah itu, kakao dibuat menjadi aneka produk cokelat yang biasa kita nikmati.

Diterbitkan di:  on April 8, 2008 at 1:27 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Ceileeee, aku dapat info lagi lho!

PEMELIHARAAN TANAMAN KAKAO

Pembibitan- Biji kakao untuk benih diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur
- Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok
- Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segera dikecambahkan
- Pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan, dilakukan penyiraman 3 kali sehari
- Siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan
- Campurkan tanah dengan pupuk kandang (1 : 1), masukkan dalam polibag

Tanam Bibit

- Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik dan naungan sementara sudah berumur 1 tahun
- Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari dengan pohon kelapa
- Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao Mulia ditanam setelah bibit umur 6 bulan, Kakao Lindak umur 4-5 bulan
- Penanaman saat hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda (flush)

Pemeliharaan Tanaman

- Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon
- Dibuat lubang pupuk disekitar tanaman dengan cara dikoak. Pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk kemudian ditutup kembali.
- Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik.

Diterbitkan di:  on April 2, 2008 at 12:01 am Tinggalkan sebuah Komentar

wah kakao lagi!

COKELAT: NIKMAT & BERMANFAATPara pecinta sejati cokelat dapat bersenang hati seperti saya… Ternyata cokelat is good for you after all !

Cokelat merupakan makanan yang digemari segala usia mulai dari anak-anak sampai orang tua. Tidak hanya dalam bentuk cokelat batangan, cokelat juga banyak diaplikasikan dalam beragam makanan mulai dari cake, biskuit, permen, ice cream, minuman dll. Selain rasanya yang enak, cokelat juga sering diasosiasikan dengan produk bernilai tinggi/mahal sehingga sering dijadikan sebagai hadiah.

Cokelat dihasilkan melalui serangkaian proses dari biji kakao. Biji kakao ini berasal dari tanaman kakao, Theobroma cacao, yang tumbuh hanya di daerah tropis. Pantai Gading di Afrika Barat dikenal sebagai penghasil biji kakao terbesar di dunia. Dalam bahasa Yunani, theobroma berarti makanan para dewa. Dalam kebudayaan Meso Amerika, biji kakao bernilai sangat tinggi sehingga dijadikan sebagai mata uang.

Asal Muasal Istilah Cokelat
Istilah ‘cokelat’ itu sendiri berasal dari xocolatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Pada awalnya, cokelat dikonsumsi sebagai minuman yang dibuat berbuih, kadang-kadang ditaburi lada merah, vanilla, madu atau rempah-rempah lain. Rasanya pahit, sepat dan berlemak. Konsumsi cokelat masa itu dianggap sebagai simbol status penting dan juga kemakmuran. Cokelat dalam bentuk padat pertama kali ditemukan pada abad ke-18 di Eropa. Penggunaan rempah-rempah dihilangkan dan mulai ditambahkan gula, susu dll.

Antioksidan dalam Cokelat
Pengolahan biji kakao menghasilkan cocoa liquor (cocoa mass), cocoa butter dan cocoa powder. Biji kakao dan turunannya ini merupakan sumber antioksidan polifenol – senyawa yang dapat mengurangi resiko penyakit jantung dengan cara mencegah oksidasi Low Density Lipoproteins (LDL) atau yang sering disebut lemak jahat, sehingga dapat mencegah sumbatan pada dinding-dinding pembuluh darah arteri. Kandungan antioksidan bervariasi pada setiap cokelat, tergantung pada berbagai faktor di antaranya kandungan cocoa dan proses pengolahan. Secara umum, cocoa powder dan dark chocolate mengandung antioksidan dalam jumlah yang lebih tinggi daripada milk chocolate. Berikut kandungan antioksidan polifenol dalam beberapa produk:

  • Milk chocolate (50g) – 100 mg polifenol
  • Dark chocolate (50g) – 300 mg polifenol
  • Red wine (140mL) – 170 mg polifenol
  • Tea (240mL) – 400 mg polifenol
  • Cocoa powder (16g) – 200 mg polifenol

Beberapa Mitos dan Fakta Seputar Cokelat
Fungsi dan pengaruh komponen-komponen aktif yang terkandung dalam cokelat menjadi bahan penelitian yang menarik dari tahun ke tahun dan sampai saat ini penelitian tentang cokelat terus berlangsung.
Beberapa mitos yang sudah dapat dibuktikan tidak benar adalah:

  1. Cokelat dapat menyebabkan timbulnya jerawat
    Para ahli yakin bahwa timbulnya jerawat lebih dipengaruhi oleh stres dan hormon yang menyebabkan kondisi kulit mengalami berlebihnya aktivitas jaringan minyak.
  2. Cokelat menyebabkan kecanduan
    Tidak ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa cokelat termasuk dalam jenis bahan adiktif. Orang yang sangat menggemari cokelat kemungkinan disebabkan oleh sifat sensori cokelat yang khas: tekstur yang mudah mencair di dalam mulut dan rasa/aroma yang enak. Cokelat mengandung lebih dari 300 jenis flavor yang berbeda, tanpa ada jenis yang paling dominan. Kegemaran akan cokelat kemungkinan juga disebabkan karena cokelat menstimulasi pelepasan endorphins – senyawa dalam otak yang dapat mengurangi rasa sakit dan membangkitkan perasaan euforia (perasaan gembira/bahagia).
  3. Cokelat merupakan penyebab sakit kepala (migren)
    Penelitian yang dilakukan di Pittsburgh State University terhadap 63 wanita menunjukkan bahwa cokelat bukan merupakan pemicu terjadinya sakit kepala. Timbulnya migren lebih dihubungkan dengan keadaan hormon dalam tubuh.
  4. Cokelat menyebabkan obesitas
    Para ahli gizi berpendapat bahwa tidak ada sesuatu makanan pun yang dapat menyebabkan kegemukan. Berat badan seseorang bertambah ketika kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih besar daripada kalori yang dibuang/dikeluarkan melalui aktifitas fisik. Penelitian yang dilakukan pada asupan diet rata-rata di Amerika menunjukkan bahwa cokelat hanya berkontribusi 0,7 – 1,0% dari total kalori. Oleh karena itu, tetap dianjurkan untuk mengontrol jumlah asupan kalori dan yang terbuang.

Fakta lain adalah cokelat hanya mengandung sejumlah kecil kafein. Jumlah ini jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kandungan kafein di dalam kopi dan teh. Suatu senyawa yang mirip dengan kafein ditemukan dalam cokelat yaitu Theobromine. Theobromine juga berfungsi sebagai stimulan, seperti halnya kafein tetapi pengaruh dan sifat yang diberikan berbeda. Theobromine hanya ditemukan dalam biji kakao dan produk-produk turunannya.

Berikut tabel perbedaan Theobromine dan Kafein:

Theobromine Kafein
Efek lemah Efek kuat
Reaksi Lambat Reaksi cepat
Meningkatkan perasaan segar Meningkatkan kewaspadaan
Menstimulasi perasaan tenang dan santai Menstimulasi perasaan nerveous
Berpengaruh lemah pada sistem saraf pusat Berpengaruh kuat pada sistem saraf pusat
Stimulan lemah bagi produksi urin Stimulan kuat bagi produksi urin
Stimulan bagi kerja ginjal  

Beberapa manfaat cokelat dalam dunia pengobatan masih menjadi bahan penelitian di dunia saat ini. Di antaranya adalah:

  1. Mengobati batuk
    Theobromine dalam cokelat disinyalir berfungsi menyembuhkan batuk secara lebih baik dibandingkan obat batuk.
  2. Mengurangi resiko stroke
    Penelitian dari Universitas California mengungkapkan bahwa cokelat memiliki pengaruh yang sama dengan aspirin sebagai anti pembekuan darah. Cokelat membantu mencegah pembekuan darah, sehingga mengurangi resiko terjadinya stroke.
  3. Mencegah tekanan darah tinggi
    Senyawa flavanol (antioksidan) dalam cokelat diindikasikan dapat membantu mencegah tekanan darah tinggi.

Setelah mengetahui bahwa konsumsi cokelat memiliki banyak manfaat, maka seharusnya kita tidak ragu lagi untuk mengkonsumsi makanan yang satu ini. Tapi, perlu diingat kembali bahwa segala sesuatu yang dikonsumsi secara berlebihan berakibat tidak baik bagi tubuh.

Diterbitkan di:  on April 1, 2008 at 2:01 am Tinggalkan sebuah Komentar

Gambar


Diterbitkan di:  on Maret 24, 2008 at 3:27 am Tinggalkan sebuah Komentar