Media Centre — Sulawesi Selatan merupakan salah satu produsen kakao Indonesia yang memproduksi 196.984 ton atau 40 persen kakao nasional. Namun, di pasar dunia, mutu kakao Indonesia termasuk Sulsel masih rendah sehingga masih menjadi bahan campuran di Amerika Serikat.Negara kita saat ini berada di peringkat tiga produsen terbesar setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika. Namun, ternyata pengembangan komoditas kakao di Indonesia masih mengalami sejumlah hambatan. Bahkan dalam kurun waktu lima tahun sejak 2002-2006, volume ekspor kakao kita menurun.
Apa saja kendala itu dan bagaimana sebenarnya posisi Sulsel dan Indonesia dalam bisnis kakao? Bagaimana pula menciptakan jalur distribusi yang efisien? Berikut wawancara Anggi S Ugart dengan Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Biaya, Fakultas Ekonomi (FE) Unhas, Prof Dr Osman Lewangka, di Unhas Kamis kemarin.
* Saat ini, bagaimana posisi produksi komoditas kakao (coklat) kita?
Data terakhir dari ICCO (International Cacao and Coffee Organization) menunjukkan kebutuhan kakao dunia saat ini diperkirakan sebesar 3,299 juta ton. Adapun produksi biji kakao hanya sebesar 3,288 juta ton. Ini berarti penawaran kakao dunia kurang sekitar 110.000 ton.
Indonesia dalam komoditas kakao ini, memegang peran strategis. Produksi kakao Indonesia saat ini atau tahun 2006 ini mencapai 435.000 ton pertahun. Maka negara kita menjadi ketiga terbesar dunia penghasil kakao setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika dengan pangsa produksi sebesar 13,23 persen dari total produksi kakao dunia.
Produksi ini masih akan ditingkatkan hingga mencapai 600.000 ton pada tahun 2010. Kita melihat sekarang, posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu produsen kakao terbesar di Indonesia. Luas areal perkebunan 181.276 hektare atau sekitar 19,83 persen dari jumlah luas areal perkebunan kakao nasional. Kakao tersebar di 17 provinsi termasuk Sultra, Sulteng, Papua dan beberapa daerah lain.
Dampak dari komoditas kakao ini, masyarakat yang terlibat di dalamnya sebagai petani produsen kakao diperkirakan sebanyak 209.993 KK atau sekitar 6,86 persen dari jumlah angkatan kerja Sulsel. Penyerapan tenaga kerja memang signifikan.
*Apakah angka produksi itu lebih tinggi dari tahun sebelumnya?
Angka itu lebih tinggi dari sebelumnya. Jadi secara bertahap angka produksi per nasional dari waktu ke waktu mencapai angka sekarang ini. Sulsel sendiri menyumbang atau memproduksi kakao mencapai 196.984 ton atau 40 persen dari 435 ribu ton produksi kakao nasional per tahun.
* Apakah komoditas kakao kita masih bisa diandalkan atau berdaya saing tinggi di pasar dunia?
Kalau bicara kualitas biji kakao, kita masih tergolong asalan jika dibandingkan kakao dari negara tropis Afrika yang tergolong mutu premium. Namun, produk kita memiliki segmen pasar sendiri terutama di Amerika Serikat. Produk asalan kita sekarang menjadi bahan campuran bagi komoditas kakao premium. Kita belum mencapai mutu premium. Sebetulnya suatu ketika kita harus bisa melakukan diversikasi ada pasar yang memerlukan mutu sekarang.
* Menurut Anda, apa kendala kualitas kakao Sulsel dan Indonesia?
Menurut kajian lembaga penelitian bahwa kualitas biji kakao rendah sehingga belum memenuhi kakao mutu premium dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya kandungan lemak yang rendah yang hanya 53,1 persen dibanding Ghana sebesar 57,3 persen. Cita rasa coklatnya juga masih kurang karena berbau tanah, asam, sangit dan lain-lain. Kalaupun difermentasi hasilnya sangat asam. Ini perlu dibenahi
Tapi kualitas ini bisa ditingkatkan dengan rekayasa teknologi budidaya dan penelitian di pertanian. Misalnya dengan pemberian vitamin. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi ilmu pertanian kita. Masalah kedua, adalah pohon kakao kita sudah tua, ada berumur 15 tahun. Padahal usia kakao produktif adalah 6-12 tahun.
* Selain mutu dan produktivitas komoditas kakao, persoalan apa lagi yang menjadi hambatannya?
Biaya produksi yang terus meningkat. Sebabnya karena bahan bakar minyak, listrik dan penerapan PPN yang akan menambah biaya produksi. Akibatnya biaya jadi mahal padahal kualitasnya rendah.
Masalah perkakaoan tak hanya soal biji, penurunan produktivitas dan biaya produksi tapi ditentukan juga oleh kinerja jalur distribusi. Jalur distribusi itu adalah pelaku-pelaku mulai petani, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang kabupaten sampai ke puncak perdagangan ekspor di Makassar turut ambil bagian agar komoditas petani bisa sampai ke pembeli, khususnya yang kita ekspor keluar negeri dengan biaya tertentu agar dengan biaya itu kita bisa menjual produk kita lebih murah sesuai kebutuhan mereka.
Di sini, saya melihat, kinerja distribusi sekarang ini tergolong belum efisien. Penyebabnya, menurut saya ada empat hal. Yakni peningkatan biaya transaksi karena ada duplikasi fungsi oleh para pelaku. Kedua, keuntungan kecil dan pembagian tidak adil karena adu kekuatan. Terus ketiga, akses informasi.
Kita tahu bahwa pergerakan dari harga komoditas kakao di pasar ekspor dinamikanya sangat tinggi. Setiap saat bisa naik dan turun. Sehingga kalau informasi tidak diakses cepat oleh petani, maka mereka tidak punya posisi kapan menjual dengan harga baik.
Faktor terakhir, mutu barang rendah, biji tidak homogen dan kurang bersih. Mungkin karena dari produsen petani yang tersebar yang mengolah dengan cara berbeda, atau tidak disortir. Mungkin juga tidak ditangani baik pascapanen.
* Berbicara soal distribusi tadi Anda katakan jalur distribusi kakao tidak efisien. Jalur alternatif seperti apa yang baik diterapkan menurut Anda?
Untuk memilih jalur efisiensi dari perspektif model analisis biaya transaksi ada beberapa kemungkinan yang bisa ditempuh, terutama jika kita kaitkan dengan meningkatkan mutu, produktivitas dan pendapatan petani.
Pertama, jalur distribusi konvensional. Artinya para pelaku transaksi independen dengan mekanisme pasar dari petani, pengumpul, pedagang besar lalu ke eksportir. Kedua, ada satu perusahaan besar yang mengintegrasikan seluruh aktivitas fungsi marketing distribusi, pengadaan, transportasi di bawah satu naungan perusahaan yang disebut sistem distribusi integrasi vertikal.
Idenya, jika tidak ada persaingan di pasar pasokan, lalu informasi kurang lengkap, produk tidak homogen maka menurut model ini baik dilakukan dengan cara itu.Sistem jalur seperti ini juga memiliki kelemahan yakni bisa saja biaya operasi jadi tinggi. Akibatnya, harga produk yang dihasilkan jadi lebih mahal.
Saya berpikir kalau kita ingin agar produk kakao bermutu dengan harga bersaing dan petani mendapat margin yang lebih baik, maka jalur konvensional ini kemudian bisa dicoba untuk disinergikan dengan sistem teradministrasi. Artinya jalur konvensional ini dilatih kemudian diarahkan. Juga ada satu penampung dan ada semacam sertifikat yang dipegang untuk ikut berbisnis. Sehingga misalnya Pemprov Sulsel mengatakan inilah mutu kakao Sulsel kita, maka mereka mengacu ke sana, dan ada harga formula. Kalau mutunya seperti ini, harganya sekian.
Dan kita arahkan ke patokan yang terbaik. Dalam sistem itu, ada insentif untuk melakukan jalur distribusi lebih murah sehingga margin yang didapatkan sampai ke petani lebih baik. Ini gambaran hasil penelitian yang saya lakukan.
* Bagaimana sebenarnya standar kakao internasional?
Standar kakao premium di negara Afrika itu mereka sudah sangat berhasil. Mulai dari mutu bibit, pengolahan fermentasi, pemetikan dan dalam cara distribusi, sudah sangat terorganisir. Di sana, ada aturan bahwa siapayang ikut dalam distribusi kakao harus ada sertifikat, boleh swasta, koperasi atau agen perusahaan asal setuju dengan standar mutu yang ditetapkan, bisa ikut.
Di negara-negara Afrika, minimun satu bulan sebelumnya harga produsen untuk tingkat petani sudah diumumkan oleh pemerintah. Sehingga terjadi bargaining di pasar. Di negara kita belum seperti itu. Karena kita belum punya standar kakao yang ketat, yang akan kita pasarkan ke luar negeri.
* Berapa volume dan nilai ekspor Sulsel dalam kurun waktu lima tahun terakhir? Mengalami peningkatan atau justru menurun karena kendala yang disebutkan tadi?
Pertumbuhan ekspor mengalami penurunan biji kakao. Tapi kita beralih sebagian ke jenis lain seperti tepung dan butter, batangan.Kita tetap bertahan di biji kakao tapi juga mengembangkan produksi bentuk lainnya.
Volume ekspor kakao kita di tahun 2002 sebesar 258.989 ton sedangkan di tahun 2006 hanya 180.556 atau menurun 77.989 ton atau turun sekitar 30,16 persen. Nilai juga menurun. Jika tahun 2002 nilai ekspor Sulsel USD354.768.989 miliar, maka di tahun 2006 turun menjadi USD224.723.485 atau 36,68 persen.
* Dengan penurunan itu apakah komoditas kakao kita masih bisa disebut andalan?
Komoditas kakao kita masih andalan karena kita masih kuasai pasar di Indonesia dan menyumbang Indonesia menjadi peringkat tiga di dunia. Begitu banyak devisa yang kita dapat dari kakao dan banyak petani yang juga terlibat di dalamnya.
* Saran Anda untuk Pemprov Sulsel?
Modal analisis biaya transaksi dapat digunakan sebagai landasan untuk mengevaluasi efisiensi sistem jalur distribusi komoditas-komoditas andalan Sulsel yang ada saat ini, serta menentukan sistem jalur alternatif yang lebih efisien. (*)