Gunung Berapi di Venus?????

TEMPO Interaktif, OXFORD: Satelit pemantau Venus Express milik Badan Antariksa Eropa (ESA) mendeteksi adanya gas gunung berapi sulfur dioksida dalam kuantitas besar di Venus. Para ilmuwan kini berusaha menentukan apakah itu membuktikan adanya gunung berapi aktif di planet tersebut atau gas itu sekadar lahir dari mekanisme di atmosfer.

Pencarian gunung berapi di Venus memang sudah lama dilakukan ESA. “Gunung berapi adalah bagian penting dari sistem iklim sebuah planet,” kata Fred Taylor, ilmuwan program Venus Express dari Universitas Oxford, Inggris. “Gunung berapi melepas gas seperti sulfur dioksida ke atmosfer planet.”

Di bumi, sulfur tak tinggal lama di atmosfer. Sebaliknya, sulfur beraksi dengan permukaan Bumi yang didominasi laut. Hal yang sama diduga terjadi pula di Venus walaupun dengan proses yang lebih lambat, dalam skala sekitar 20 juta tahun.

Beberapa ilmuwan memperkirakan proporsi besar sulfur dioksida yang ditemukan di atmosfer merupakan bagian dari “asap mesiu” erupsi gunung berapi. Meski demikian, ledakan semacam itu dapat terjadi sekitar 10 juta tahun lalu dan sulfur tetap berada di atmosfer karena dibutuhkan waktu lama untuk turun ke permukaan planet yang didominasi batuan.

Diterbitkan di: on April 29, 2008 at 1:31 pm Tinggalkan sebuah Komentar

hama, hama,….

Hama Kakao Rugikan Petani Sulsel Rp 800 miliar

MAKASSAR – Petani diperkirakan kehilangan produksi buah kako sebanyak 28 ribu ton pertahun. Akibat digasak hama kiriman dari Sulawesi Tengah itu menyebabkan petani menderita kerugian Rp 750 miliar hingga Rp 800 miliar, dengan asumsi harga kakao Rp 10.000 per kilogram.

Kabar menyedihkan ini disampaikan Wakil Kepala Dinas Perkebunan Sulawesi Selatan, Ir M Karya Yunus, kemarin. Ia mengatakan, secara keseluruhan luas areal perkebunan kakao di daerah itu yang terserang hama PBK mencapai 142 ribu hektare dari 240 ribu hektare perkebunan itu. Intensitas serangan mencapai 20 – 50 persen.

Areal paling luas yang terserang hama terletak di daerah perbatasan Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah, yakni Kabupaten Luwu Utara dan Mamuju. Di Luwu Utara, ungkap Karya, luas areal yang terserang hama PBK mencapai 42 ribu hektare dari 48 ribu hektare total areal perkebunanan tanaman kakao. Sedang di Mamuju, sudah terserang seluas 30 ribu hetare dari 45.232 hektare tanaman kakao.

Menurut Karya saat ini seluruh daerah perkebunan kakao sudah terserang hama tersebut. Daerah perkebunan kakao di Sulawesi Selatan meliputi 16 kabupaten, antara lain Soppeng, Pinrang, Luwu Utara, Maros dan Mamuju. Hama yang pertama kali ditemukan di Luwu Utara tahun 1995 itu penyebarannya relatif cepat. Seluruh kabupaten yang memiliki perkebunan kakao, ujar Karya, sudah terserang hama PBK dengan tingkat bervariasi. “Itu dikarenakan setiap kupu-kupu yang menyebarkan hama itu bisa terbang dengan radius 500 meter,” ujarnya.

Hingga saat ini, belum ditemukan cara mengatasi hama itu secara kimiawi. Petani hanya bisa membuat hama itu tidak nyaman hidup. Karya menyebutkan empat langkah, yakni pemangkasan sesering mungkin, pemupukan berimbang, panen sering, dan sanitasi kebun. Bila langkah itu dilakukan dengan baik, diharapkan mampu menekan intesitas serangannya hingga 30 persen. Sehingga, memungkinkan petani hanya kehilangan hasil produksi buah kakao sekitar lima persen.

Sulawesi Selatan sendiri menyumbang sekitar 70 persen ekspor kakao nasional. Data Assosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulawesi Selatan menunjukkan, hampir seluruh produksi kakao daerah itu diekspor. Tahun lalu, ekspor kakao Sulawesi Selatan mencapai 176 ribu ton. Untuk tahun ini, target ekspor diperkirakan mencapai 190 ribu ton. Sementara target ekspor kakao secara nasional sebanyak 350 ribu ton.

Diterbitkan di: on April 21, 2008 at 10:43 pm Tinggalkan sebuah Komentar

coklat………kakao……….coklat

Siapa sih yang tidak suka dengan cokelat? Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa pasti suka dengan makanan yang satu ini. Apalagi setelah diolah, cokelat bisa “menyihir” lidah siapapun yang menyicipinya. Rasanya yang manis dan tampilannya yang menggiurkan mata, bisa membuat kita ketagihan untuk terus mencobanya. Namun, tahukan kamu proses pembuatan cokelat? Kalau belum tahu, yuk, kita ikuti cerita kak Mitha Yanuarti tentang proses pembuatan cokelat dalam buku Cokelat yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka. Cokelat yang biasa kita makan, sebenarnya berasal dari biji-biji dalam buah kakao. Buah kakao itu sendiri, bentuknya seperti timun atau pepaya. Bulat dan memanjang. Sebelum matang, buah kakao berwarna hijau atau ungu. Jika sudah matang, berwarna kuning keemasan atau ungu tua. Biji-biji kakao yang terdapat di dalam buah kakao ini rasanya pahit dan berwarna putih. Sebelum dibuat menjadi cokelat, biji kakao mentah harus diproses terlebih dahulu. Proses pertama adalah fermentasi. Proses ini penting untuk mendapatkan kakao yang berkualitas tinggi dan mengurangi rasa pahit kakao. Proses ini berlangsung selama tiga hingga sembilan hari. Setelah proses ini selesai, barulah biji kakao ini siap dikeringkan. Pada proses kedua ini, pengeringan dilakukan selama beberapa hari atau seminggu. Selama dikeringkan, biji kakao harus terus dibolak-balik agar kering secara merata. Setelah kering, berat biji kakao akan berkurang hingga setengahnya, warnanya menjadi lebih cokelat dan aromanya lebih kuat. Setelah melalui kedua proses tadi, barulah biji kakao tersebut bisa diolah menjadi cokelat. Pengolahannya dilakukan dengan bantuan mesin. Biji-biji tersebut diubah menjadi butiran, cairan, mentega, batangan, atau bubuk kakao. Setelah itu, kakao dibuat menjadi aneka produk cokelat yang biasa kita nikmati.

Diterbitkan di: on April 8, 2008 at 1:27 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Vietnam…..?

Vietnam akan menjadi ancaman serius bagi Indonesia di kancah persaingan pasar kakao dunia, bila pemerintah tidak segera melakukan upaya-upaya signifikan dan menyeluruh dalam meningkatkan kualitas biji kakao. Dikhawatirkan dalam jangka waktu antara 1-2 tahun lagi Vietnam akan melindas Indonesia di pasar kakao dunia.Pengembangan kakao di Vietnam sangat intensif, karena banyak melibatkan investor yang berpengalaman di bidang tersebut. Sementara di Indonesia umumnya adalah milik petani, yang belum serius menangani sistem budidaya serta pasca panen agar menghasilkan biji kakao bermutu tinggi.

 

Diterbitkan di: on April 7, 2008 at 9:57 am Tinggalkan sebuah Komentar

Simak…!

 

 

 

Januari-September Ekspor Kakao 135.000 Ton

 

 

Produksi Kakao Sulsel Turun 10%
 

 

 

MAKASSAR, Upeks–Data Pelabuhan Makassar menyebutkan dari Januari hingga September 2007 tahun ini, hanya sekitar ekspor kakao dari Sulsel hanya 135.000 ton. Hal itu sebagai akibat dari terjadinya pula penurunan hasil produksi kakao Sulsel tahun ini.

 

 

Bahkan, seperti yang terungkap dalam jumpa pers yang digelar Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel, Kamis (21/11) kemarin, diperkirakan mengalami penurunan hingga mencapai 10%. Hal itu diakibatkan banyaknya persoalan, diantaranya hama, yang mengakibatkan panen petani menurun.
Pimpinan PT Coklat Murni, Zaenal Dg Beta, mengatakan, tahun sebelumnya ekspor kakao Sulsel bisa mencapai 202.000 ton, sementara tahun ini antara Januari hingga September data pelabuhan menyebutkan hanya sekitar 135.000 ton yang mampu diekspor.
“Diperkirakan akhir tahun ini ekspor kakao Sulsel akan mengalami penurunan. Selain hama, faktor lain yang juga terlihat sangat berpengaruh yakni curah hujan yang terlalu tinggi, akibatnya terjadi pembusukan di pohon,” keluhnya.
Dia menambahkan, budi daya kakao Sulsel 80% dikelola petani, padahal selayaknya budi daya kakao yang baik melalui sistem perkebunan. Karena jangka waktu atau usia kakoa dipangkas kembali berkisar 15 hingga 10 tahun. Meski dia mengakui hasil produksi kakao Sulsel tetap menjadi incaran pasar.
Di tempat sama, Pimpinan PT Haji Naga Fahrul Halim memperkirakan bulan November tahun ini ekspor kakao tidak mampu mencapai angka 2.000 ton, dibandingkan bulan lalu, dengan tahun sebelumnya mencapai 6.000 ton. Sehingga penutupan akhir tahun kakao Sulsel yang mampu dieksor tidak akan mencapai 190.000 ton.
“Harga kakao di Makassar kini mencapai Rp16.800 per kilonya. Sementara harga dunia terakhir menunjukkan USD 1770.000 setelah dipotong dari USD 1970.000 perkilonya,”

Diterbitkan di: on April 5, 2008 at 10:11 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Perkebunan……

NANAS (PINAPPLES)

Nanas terdapat di wilayah selatan Kabupaten Pemalang, tepatnya di Desak Belik, Bulakan, Beluk, dan Mendelem, Kecamatan Belik. Dengan luas kebun 538 hektar serta produksi sebanyak 2612 ton per tahun, nanas dari Kecamatan Belik dapat mencukup kebutuhan pasar lokal serta dapat memasok sebagian kebutuhan pasar di Jakarta, Semarang dan Cirebon. Nanas ini lebih dikenal sebagai nanas batu karena ditanam disela-sela batu.

 

MANGGA (MANGGO)

Tanaman ini – jenis arumanis – berkembang baik di Kecamatan Pemalang, Taman, Ulujami, Petarukan dan Bode. Saat ini komoditas mangga ditanam diatas lahan seluas 2,389 hektar, dan masih tersedia lahan seluas 27,352 hektar untuk pengembangan tanaman ini yang tersebar diberbagai kecamatan tersebut diatas.

 

ADVOKAT (AVOCADOS)

Jenis tanaman unggulan ini tumbuh dan berkembang baik di Kecamatan Moga Belik, Watukumpul, Pulosari. Saat ini lahan yang tergarap baru mencapai 443 hektar, sementara potensi lahan yang tersedia mencapai 25,465 hektar.

 

KAKAO (CACAO)

Komoditas kakao banyak terdapat di Kecamatan Watukumpul, Belik, Bodeh dan Bantarbolang. Luas areal seluruhnya 736,31 hektar dengan produksi rata-rata 88.702 ton per tahun. Tingkat produktivitasnya 129 per kg per hektar.

 

 

 

 

DILEM DAN CENGKEH (DILEM AND CLOVES)

Terletak di kecamatan watukumpul, lahan yang berproduksi mencapai 3.250 hektar. Kedua komoditas ini sudah dikembangkan atau diolah menjadi minyak dilem dan minyak cengkeh dengan masing-masing kapasitas produksi per hari: minyak dilem 17,5 kg/hari dan minyak cengkeh 50 kg/hari.

 

TEH (TEA)

Komoditas teh terdapat di Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Belik dengan luas areal masing-masing 717,62 hektar dan 39,702 hektar. Komoditas teh di Kabupaten Pemalang merupakan usaha yang dilakukan rakyat dan pemerintah 9 BUMN). Tingkat produktivitas teh disini mencapai 1,416 kg/hektar.
Produksi pucuk teh tahun 2002 relatif besar, mencapai 1.106.262 ton. Sampai sekarang ini industri pengolahan teh masih bersifat tradisional dan dikembangkan pada daerah tertentu saja. Sementara sebagian besar daun teh yang sudah dipetik biasanya langsung dijual dalam kondisi basah. Kondisi ini membuka peluang bagi usaha untuk menanamkan investasinya terutama pada industri pengolahan teh, baik skala menengah maupun besar.

 

KOPI

Komoditas kopi yang ada di Kabupaten Pemalang ada dua yakni Robusta dan Arabica. Kopi robusta terdapat di kecamatan Belik, Watukumpul dan Pulosari, sebagian di Kecamatan Moga, Bantarbolang, Bodeh dan Randudongkai. Luas areal seluruhnya 425,7 hektar dengan total produksi per tahun 132,714 ton dan angka produktivitas sebesar 348 kg/ha, sedang kopi Arabica terdapat di Kecamatan Pulosari dan Belik dengan luas areal masing-masing 51,76 hektar dan 18,8 hektar.

 

MELATI EMPRIT

Tanaman melati merupakan jenis tanaman yang sudah sangat luas dibudidayakan oleh petani di Kabupaten Pemalang. Tanaman ini telah dikembangkan hampir disebagian besar wilayah Kabupaten, karena jenis tanaman ini dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim.
Saat ini produksi melati emprit mencapai 19.713 kw/tahun. Melati emprit memiliki peluang ekspor yang besar sebagai bahan kosmetika. Peluang investasi budidaya melati emprit sangat besar, terutama dibagian utara Kabupaten Pemalang seperti Kecamatan Taman dan Ulujami.”

Diterbitkan di: on at 9:53 pm Tinggalkan sebuah Komentar

gue…

160220082788.jpg

Mochamad Guntoro

K4107069

Agribisnis Kakao

Klo, pengen tau lebih jelas? Silakan kirimkan pertanyaan anda melalui komentar….

Diterbitkan di: on April 3, 2008 at 11:06 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Ceileeee, aku dapat info lagi lho!

PEMELIHARAAN TANAMAN KAKAO

Pembibitan- Biji kakao untuk benih diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur
- Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok
- Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segera dikecambahkan
- Pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan, dilakukan penyiraman 3 kali sehari
- Siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan
- Campurkan tanah dengan pupuk kandang (1 : 1), masukkan dalam polibag

Tanam Bibit

- Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik dan naungan sementara sudah berumur 1 tahun
- Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari dengan pohon kelapa
- Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao Mulia ditanam setelah bibit umur 6 bulan, Kakao Lindak umur 4-5 bulan
- Penanaman saat hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda (flush)

Pemeliharaan Tanaman

- Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon
- Dibuat lubang pupuk disekitar tanaman dengan cara dikoak. Pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk kemudian ditutup kembali.
- Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik.

Diterbitkan di: on April 2, 2008 at 12:01 am Tinggalkan sebuah Komentar

Masalah hama kakao di daerah asalku!

Gerakan pengendalian hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Kalimantan TimurDengan dukungan dana APBD telah dilakukan gerakan pengendalian hama Penggerek Buah Kakao (PBK) seluas 2.045 ha dari 6.238 ha areal terserang atau ± 33 %. Teknik pengendalian yang digunakan adalah teknik penyelubungan buah muda (sarungisasi).
 
Diterbitkan di: on April 1, 2008 at 2:16 am Tinggalkan sebuah Komentar

Yuk Diskusi!

Bagaimana cara melakukan penyambungan and Okulasi tanaman kakao, supaya mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan?

Diterbitkan di: on at 2:10 am Tinggalkan sebuah Komentar